Hari 1 – Tanah yang Memanggil Pulang

Hari 1 – Tanah yang Memanggil Pulang

Desa di Persimpangan Zaman

Pada tahun-tahun mendatang, Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara dengan lebih dari 70% penduduk tinggal di wilayah perkotaan. Angka ini sering dibaca sebagai tanda kemajuan, simbol modernitas yang tak terelakkan. Namun di balik statistik itu, ada cerita lain yang jarang ditulis: cerita tentang desa-desa yang perlahan kehilangan denyutnya.

Di Jangka Buya, Pidie Jaya, perubahan itu tidak hadir sebagai grafik atau laporan resmi. Ia hadir dalam bentuk rumah-rumah yang pintunya jarang dibuka, halaman yang tak lagi dipijak langkah muda, dan suara malam yang semakin sunyi. Deru pembangunan memang terdengar di kejauhan, tetapi di dalam kampung, yang terasa justru adalah kekosongan yang pelan-pelan mengendap.

Desa tidak boleh hanya menjadi penonton.

Ketika Pergi Menjadi Ukuran Keberhasilan

Hari ini, ada narasi yang tanpa sadar kita warisi bersama: bahwa keberhasilan adalah tentang sejauh mana seseorang bisa meninggalkan kampung halamannya. Kota menjadi panggung impian, sementara desa sering ditempatkan sebagai titik awal yang harus ditinggalkan.

Pemuda-pemuda kita tumbuh dengan imajinasi itu. Mereka tidak hanya pergi karena alasan ekonomi, meskipun itu penting, tetapi juga karena dorongan sosial yang lebih halus namun kuat: keinginan untuk diakui, untuk dianggap “maju”, untuk tidak tertinggal dalam arus zaman.

Pergi menjadi simbol prestise.

Pulang, sering kali, dianggap sebagai langkah mundur.

Di sinilah desa mulai kehilangan bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga imajinasi kolektifnya.

Mengapa Mereka Pergi? Lebih dari Sekadar Ekonomi

Jika kita jujur melihat lebih dalam, alasan kepergian pemuda desa tidak sesederhana “tidak ada pekerjaan”. Ada lapisan yang lebih kompleks:

  • Tekanan Sosial: Mereka yang tinggal sering kali dibandingkan dengan mereka yang pergi. Kota memberi status, desa dianggap pilihan terakhir.

  • Persepsi Kemajuan: Kemajuan diidentikkan dengan gedung tinggi, gaji bulanan, dan gaya hidup urban—bukan dengan kemandirian atau keberlanjutan hidup di desa.

  • Krisis Ruang Ekspresi: Desa sering belum mampu menyediakan ruang bagi pemuda untuk berkembang, berkreasi, dan merasa relevan.

  • Keterputusan Narasi: Tidak ada cerita besar yang membuat mereka percaya bahwa masa depan bisa dibangun dari desa.

Akibatnya, desa tidak hanya kehilangan jumlah penduduk muda, tetapi juga kehilangan energi perubahan.

Struktur sosial mulai bergeser.
Yang tersisa adalah generasi yang menua, sementara regenerasi melemah.
Inovasi terhambat, dan desa perlahan menjadi ruang yang hanya bertahan, bukan berkembang.

Aha-Moment: Yang Sering Tidak Kita Sadari

Yang sering tidak kita sadari adalah:
masalah utama bukan pada kepergian pemuda, tetapi pada cara kita memaknai desa itu sendiri.

Di sinilah letak persoalan sebenarnya.

Selama desa terus diposisikan sebagai simbol ketertinggalan, maka selama itu pula ia akan ditinggalkan. Kita tidak sedang kehilangan pemuda, kita sedang kehilangan kepercayaan bahwa desa adalah tempat yang layak untuk masa depan.

Padahal, jika dilihat dari perspektif lain, desa justru memiliki apa yang kota mulai kehilangan:
kedekatan sosial, ketahanan pangan, ruang hidup yang lebih manusiawi, dan akar identitas yang kuat.

Masa depan tidak datang, ia dibentuk.

Dan desa memiliki semua bahan dasar untuk membentuknya.

Mendefinisikan Ulang “Pulang”

Kita perlu mengubah cara pandang kita tentang “pulang”.

Pulang bukanlah tanda kegagalan.
Pulang adalah keputusan strategis.

Pulang berarti membawa pengalaman, pengetahuan, dan jaringan dari luar untuk ditanam kembali di tanah sendiri.
Pulang berarti memilih untuk membangun dari fondasi yang paling kuat: akar.

Dalam perspektif ini, desa bukan lagi titik awal yang harus ditinggalkan, melainkan pusat gravitasi baru bagi masa depan.

Bayangkan jika pemuda kembali bukan karena terpaksa, tetapi karena melihat peluang.
Bayangkan jika desa menjadi ruang inovasi, bukan sekadar ruang nostalgia.

Itulah titik balik yang sedang kita cari.

Penutup: Sebuah Pertanyaan yang Mengganggu

Namun sebelum kita melangkah lebih jauh, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama:

Apa yang benar-benar hilang dari jiwa sebuah desa ketika ia kehilangan seluruh pemudanya?

Pertanyaan ini bukan untuk dijawab sekarang.
Karena mungkin, jawabannya akan membawa kita pada kenyataan yang lebih kompleks, bahwa bukan hanya manusia yang pergi, tetapi juga harapan, arah, dan masa depan itu sendiri.

Dan di sanalah kita akan mulai memahami, mengapa terkadang…
bantuan yang datang ke desa pun tidak lagi mampu menyelesaikan masalah.

(Bersambung: “Ketika Bantuan Tak Lagi Menyelesaikan Masalah Desa”)

***

Oleh : Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa Kecamatan Jangka Buya

Komentar